Dharma Wanita Persatuan Kalteng Gelar Pembinaan dengan Teman “Think Before You Click

Terkini 10 Sep 2026 17:45 • 4 min read • 11 views • By admin

Share berita ini

Dharma Wanita Persatuan Kalteng Gelar Pembinaan dengan Teman “Think Before You Click
Dr. Joko Santoso, S.Ag., M.M. hadir sebagai narasumber tunggal

PALANGKA RAYA – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Kalimantan Tengah menggelar kegiatan pembinaan yang diikuti sekitar 100 orang peserta. Kegiatan berlangsung dengan penuh antusias dan interaktif, khususnya ketika peserta mendapatkan materi mengenai kecakapan bermedia sosial dan pentingnya berpikir sebelum membagikan informasi.

 

Pada kesempatan tersebut, Dr. Joko Santoso, S.Ag., M.M. hadir sebagai narasumber tunggal, atas undangan Ketua Dharma Wanita Persatuan Provinsi Kalimantan Tengah, Ibu Dr. Sari Marlina Agustan.

 

Mengangkat pesan utama “Think Before You Click”, Dr. Joko mengajak seluruh peserta untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, perkembangan teknologi digital memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan apabila tidak digunakan secara bertanggung jawab.

 

“Setiap kali kita ingin membagikan sesuatu di media sosial, jangan hanya bertanya apakah kita bisa membagikannya, tetapi tanyakan terlebih dahulu apakah informasi itu benar, bermanfaat, perlu, dan tidak merugikan orang lain,” pesan Dr. Joko.

 

Dalam materinya, peserta diperkenalkan dengan prinsip THINK, yaitu True, Helpful, Inspiring, Necessary, dan Kind. Prinsip tersebut menjadi panduan sederhana agar seseorang tidak terburu-buru ketika menerima maupun menyebarkan informasi di media sosial.

 

True, memastikan informasi yang diterima benar. Helpful, apakah informasi tersebut memberikan manfaat. Inspiring, apakah dapat memberikan inspirasi. Necessary, apakah memang perlu dibagikan. Dan Kind, apakah penyampaiannya tetap baik serta tidak menyakiti atau merugikan orang lain.

 

Dr. Joko juga mengingatkan bahaya “klik tanpa berpikir”, karena sebuah informasi yang dibagikan hanya dalam hitungan detik dapat menimbulkan dampak panjang. Informasi yang belum terverifikasi dapat memicu kesalahpahaman, kepanikan, konflik, bahkan merusak reputasi seseorang.

 

Jangan Membagikan Saat Emosi

 

Salah satu bagian yang mendapat perhatian peserta adalah pembahasan mengenai emosi dan media sosial. Dr. Joko mengingatkan agar seseorang tidak menggunakan media sosial sebagai tempat melampiaskan kemarahan.

 

Menurutnya, ketika seseorang sedang marah atau kecewa, keputusan untuk mengetik dan mengirimkan pesan sering kali dilakukan secara spontan. Padahal, setelah pesan dikirim, dampaknya dapat sulit dikendalikan.

 

Karena itu, peserta diajak untuk berhenti sejenak, berpikir, memeriksa kembali isi pesan, kemudian memutuskan apakah pesan tersebut benar-benar perlu dikirim.

 

“Jangan biarkan emosi mengendalikan jari kita. Sekali kita menekan tombol kirim, pesan itu bisa menyebar jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk menariknya kembali,” ungkapnya.

 

Bijak Menjaga Privasi

 

Selain persoalan hoaks dan emosi, Dr. Joko juga menekankan pentingnya menjaga privasi. Kebiasaan terlalu banyak membagikan kehidupan pribadi di media sosial dapat membuka berbagai risiko, baik terhadap diri sendiri maupun keluarga.

 

Peserta diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam membagikan lokasi, jadwal kegiatan, data pribadi, kondisi keluarga, maupun informasi lainnya yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik.

 

Sebaliknya, media sosial dapat dimanfaatkan untuk hal-hal positif, seperti berbagi ilmu, membangun komunikasi, memperluas jaringan, mempromosikan kegiatan positif, memberikan inspirasi, serta menyebarkan pesan-pesan yang membangun.

 

Dharma Wanita Harus Menjadi Teladan bagi Keluarga

 

Materi semakin menarik ketika dikaitkan dengan peran anggota Dharma Wanita sebagai perempuan, istri, ibu, dan anggota organisasi.

 

Dr. Joko menekankan bahwa perilaku orang tua dalam menggunakan media sosial akan menjadi contoh bagi anak-anak. Anak tidak hanya belajar dari nasihat yang diberikan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan saksikan setiap hari.

 

Karena itu, anggota Dharma Wanita diharapkan dapat menjadi teladan digital bagi keluarga, antara lain dengan tidak mudah percaya terhadap informasi, tidak mudah menyebarkan hoaks, tidak mudah marah di media sosial, tidak berlebihan membagikan kehidupan pribadi, serta mampu menggunakan media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat.

 

“Anak-anak bukan hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi mereka melihat apa yang kita lakukan. Kalau kita ingin anak bijak bermedia sosial, maka terlebih dahulu kita harus memberikan teladan,” kata Dr. Joko.

 

Bijak Mengatur Waktu

 

Pesan lainnya yang disampaikan adalah pentingnya mengatur waktu dalam menggunakan media sosial. Jangan sampai waktu bersama keluarga, belajar, bekerja, beribadah, maupun beristirahat justru tergantikan oleh aktivitas di depan layar.

 

Media sosial, kata Dr. Joko, seharusnya menjadi alat yang digunakan manusia, bukan justru manusia yang dikendalikan oleh media sosial.

 

Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari sekitar 100 peserta. Antusiasme terlihat ketika peserta mengikuti materi, menyimak contoh-contoh yang diberikan, serta merespons berbagai persoalan yang sering mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

 

Di akhir pemaparannya, Dr. Joko menyampaikan pesan khusus kepada anggota Dharma Wanita agar menjadi “penyebar ketenangan, bukan penyebar kegaduhan.”

 

Ia mengajak seluruh peserta untuk membangun kebiasaan sederhana: berpikir sebelum mengklik, memeriksa sebelum membagikan, menjaga etika ketika berkomentar, menghargai perbedaan, menjaga privasi, serta menggunakan media sosial untuk menyebarkan manfaat dan kebaikan.

 

Kegiatan pembinaan Dharma Wanita Persatuan Provinsi Kalimantan Tengah tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi momentum untuk membangun budaya digital yang sehat, santun, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi keluarga maupun masyarakat.

 

“Sebelum menekan tombol kirim, tanyakan kepada diri sendiri: Apakah benar? Apakah baik? Apakah perlu? Apakah bermanfaat? Dan apakah saya akan bangga jika orang lain membacanya?” menjadi pesan reflektif yang disampaikan kepada para peserta.

 

 

Redaksi

DetikPilarFakta